Sebuah kisah

Dirimu sangat bernilai

Rani adalah seorang mahasiswi di suatu universitas ternama di jakarta, ia mahasiswi yang sangat memperhatikan mata kuliah yang ada di kampusnya, rani tidak pernah absen atau bahkan ijin dan sangat tekun dalam belajar.
itu terlihat dari nilai-nilai matapelajaran yang ia dapat selalu mendapatkan A+ (sangat memuaskan), sehingga orang tua rani begitu bangga dengannya.
Sampai pada suata hari rani mulai di sibuk-an dengan kegiatan tambahan yaitu kegiatan bakti sosial yang ada di kampusnya, kegiatan di kampus tersebut sangat padat menyebabkan rani harus pulang malam setiap harinya.
Orang tua rani yang melihat rani selalu pulang larut malam sangat menghawatirkan rani namun orang tuanya tidak dapat berbuat banyak, mereka sudah melarang rani untuk tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan yang ada di kampusnya, namun rani menolaknya dan tetap mengikutinya, karna memang rani menjalaninya dengan senang hati.
Namun karna hal tersebut membuat rani begitu kelelahan.
pada saat rani mengikuti mata kuliah di kelasnya rani sering kali tidak fokus karna kurangnya istirahat.
lalu setelah beberapa bulan kemudian rani mendapatkan nilainya menurun, dan rani begitu terpukul karna ia tidak mendapatkan nilai terbaik lagi sehingga pada tahun tersebut rani tidak lagi mendapatkan bantuan beasiswa lagi dari kampus tersebut.
karna kejadian tersebut rani memutuskan untuk tidak mengikuti kegiatan yang ada di kampus dan kembali fokus untuk hanya mengikuti mata kuliah yang ada saja.
Temen-teman rani yang sudah tidak lama melihat rani mereka bertanya-tanya, kenapa rani tidak mengikuti kegiatan bakti sosial lagi.
Salah satu teman rani menjalaskan pada teman-teman rani yang lain bahwa alasan rani tidak mengikuti kegiatan lagi karna rani ingin fokus dengan mata kuliahnya.
Teman-teman rani yang mendengar hal itupun mengerti dan memaklumi dengan keputusan rani.

Lalu beberapa hari kemudian rani mengalami kecelakaan pada saat ingin berangkat ke kampus ia tertabrak mobil yang menyebabkan rani harus di rawat di rumah sakit.
2 hari sudah rani berada di rumah sakit, ia baru sadar bahwa dirinya berada di rumah sakit dengan kondisi yang cukup parah, ia melihat kaki dan tangannya di perban dan menggunakan gips.
benar saja itu karna rani mengalami keretakan parah di bagian tulang lengan dan kakinya.
dan mungkin saja rani tidak akan bisa berjalan lagi kata dokter yang menangani rani.
Rani yang melihat kondisi dirinya seperti itu merasa sudah tidak ada lagi semengat untuk melakukan hal apapun , seakan kehidupannya hancur dan tidak ingin lagi melihat dunia luar lagi.
Orang tua rani yang melihat keadaan anaknya itu begitu sangat khawatir dengan kejiwaan atau mental dari rani yang sudah tidak memiliki semangat itu.
Berbagai cara yang di lakukan orang tua rani salah satunya adalah mengundang semua teman-teman rani untuk berkunjung melihat keadan rani namun hasilnya tidak sesuai denagn harapan , rani tidak ingin melihat teman-temannya karna ia merasa bahwa dirinya sudah tidak ada gunanya dan malu bertemu orang lain.
sampai pada akhirnya ada dosen yang ingin mengunjungi rani , ia bernama pak edi , ia adalah dosen mata kuliah psikolog di kampusnya rani.
pak edi bertanya pada teman-teman rani tentang keberadaan rumah sakit rani dirawat.
dan temen-teman ranipun mengantarkan pak edi menuju rumah sakitnya.
pak edi bertemu dengan orang tua rani dan membicarakan tentang kondisi yang di alami rani saat ini.
setelah selsai berbicara dengan orang tuanya rani, lalu kemudian pak edi meminta ijin untuk bisa menemui rani dan meminta untuk masuk keruangan rani bersama teman-teman rani yang lain.
orang tua dan petugas rumah sakitpun mempersilahkan pak edi dan teman-teman rani untuk bertemu dengan rani.
mereka semua masuk ke ruangan rani dan melihat rani terbaring di kasurnya.
pak edi menyapa rani.
Pak edi : “ Hai rani , apa kamu ingat dengan saya”
ranipun menjawabnya
Rani :  “ iya pak , saya ingat”
pak edi yang merupakan dosen psikolog di kampus ia mencoba untuk memberikan semangat pada rani dengan keahliannya itu.
pak edi bertanya pada rani dan teman-temannya rani yang ada di ruangan tersebut.
ia mengeluarkan uang dari sakunya, uang Rp.100.000 (seratus ribu rupaih) dan menanyakan pada mereka.
pak edi : “ Siapa yang mau uang Rp.100.000 ini “ ?
dan kemudian semua mahasiswa/i yang ada di ruangan tersebut mengacungkan tangannnya dan mengatakan “saya mau, saya mau , saya mau pak”
pak edi menjawab
Pak edi : “menarik”
Kemudiann pak edi melipat-lipat uang lembaran Rp.100.000 itu dan menanyakan kembali pada mereka.
Pak edi :” siapa yang mau uang ini “ ?
Mereka kembali mengatakan hal yang sama , mengacungkan tangannnya dan mengatakan “saya mau pak”
kemudian pak edi meremas-remas uang kertas itu hingga bentuknya tak karuan dan lecek, dan menanyakan lagi pada meraka
Pak edi : “ siapa yang masih mau uang ini “ ?
Mereka menjawab lagi dengan jawaban yang sama mengacungkan tangannnya dan mengatakan “saya mau pak”
akhirnya pak edi membuang uang kertas tersebut kelantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya , dan menanyakan kembali pada mereka , “siapa yang masih ingin uang ini “?
Mereka menjawab lagi dengan jawaban sama yaitu meraka masih menginkan uang seratus ribu itu.
dan pak edipun memberikan uangnya kepada salah satu mahasiswa yang ada di rungan tersebut.

Setalah itu pak edi mengatakan pada mereka semua “kalian hari ini mendapatkan pelajaran yang sangat penting” , tak peduli seberapa banyak saya remas, tekan, dan injak uang itu , kalian masih menginginkannya karna uang itu masih berniai seratus ribu rupiah.
Seperti uang Rp.100.000 (Seratus ribu rupiah) , diri kita juga bisa Ibaratkan dengan uang itu yang memiiliki nilai , tidak peduli berapa kali kehidupan menginjakmu, meremasmu, menggumpalkanmu dan menekanmu. Namun nilai kita tetaplah sama yang menerangi diri kita dengan segala kebahagian dan pengetahuan dan sinar itu tidak akan bisa di ambli dari dirimu.
Hidup kita bukan di tentukan dari nilai pakaianmu, jumlah uangmu di rekening atau jabatan kita.

Selsai sudah pak edi meberikan penjelasan pada rani dan teman-temannya yang ada di ruangan tersebut, mereka terdiam dan menyadari akan berharganya diri mereka, terutama rani ia merasakan semangat baru dalam hidupnya mendengar penjesan dari pak edi dan rani mengucapkan terima kasih banyak kepada pak edi sambil menangis.
Lalu setelah itu pak edi dan temen-teman rani berpamitan pada rani dan mengucapkan “Lekas sembuh ran, dan tetap semangat bapak yakin kamu bisa melawatinya ”.

Tinggalkan Balasan