Sebuah kisah

Kehilangan seratus persen hidup

Ada sebuah lembaga ilmu pengatahuan yang di dalamnya terdapat banyak sekali para ilmuan yang biasa di sapa dengan Profesor.
salah satunya bernama Profesor julian
Profesor  julian mendapatkan tugas penelitian pada suata daerah hutan yang jaraknya cukup jauh , karena hutan itu terdapat di sebuah pulau terpencil seberang laut.
Perjalanan Profesor julian di mulai pada hari minggu pagi , karena harus melalui jalur laut maka Profesor  julian-pun menemui nelayan yang ada di ujung dermaga, untuk meminta bantuan mengantarkan dirinya ke pulau yang ada hutan tersebut.
Pagi itu cuaca begitu kurang baik karena di kejauhan mata memandang pulau yang akan di tuju terlihat awan hitam.
Namun Profesor  julian dan nelayan tersebut tidak mengkhawatirkannya dan tetap mendayung perahunya.
tiga jam berlalu perjalanan mereka sudah sampai di tengah laut dan meraka sudah mau sampai dekat pulau yang akan di tuju tersebut.
karena selama perjalan tidak ada hal menarik yang ditemui atau di lihat , maka Profesor  julian merasa bosan melihat sekelilingnya hanya air laut saja , lalu Profesor julian mencoba mengajak nelayan itu berbincang.
Profesor Julian mulai bertanya pada nelayan.
Profesor : ” Pak nelayan apa anda pernah belajar geologi ? “
Nelayan menjawab pertanyaan Profesor Julian
Nelayan : ” Tidak pernah pak, saya tidak mengerti apa itu geologi”
lalu Profesor berkata lagi pada nelayan itu
Profesor : ” Berarti anda sudah kehilangan 30% dari hidup anda pak”
dan nelayanpun hanya diam mendengar perkataan Profesor  julian
beberapa waktu kemudian Profesor julian bertanya lagi pada nelayan itu
Profesor : “Pak nelayan apakah anda tahu tentang ilmu Botani ?”
si nelayan menjawab
nelayan : ” Saya tidak pernah belajar tentang hal itu pak”
sang Profesor  berkata lagi
Profesor  : ” Wah anda kehilangan 30% lagi dari hidup anda karena anda tidak pernah belajar ilmu botani”
nelayan itu hanya diam dan ia  terus mengayunkan perahunya, dan kemudian Profesor  julian bertanya sekali lagi .
Profesor  : ” Pak nelayan apakah anda pernah belajar geografi ? “
dangan perasaan malu dan kepala tertunduk menjawablah nelayan itu.
nelayan : “Saya tidak mengetahui tentang geografi pak”
sang Profesor mengatakan kembali
Profesor  : ” Berarti anda sudah kehilangan 90% dari kemampuan hidup anda karena tidak pernah belajar hal hal yang sangat penting itu”

Lalu kemudian Percakapan Profesor julian dan nelayan itu selsai karena mereka melihat ombak besar mengarah ke arah perahunya.
meraka berdua begitu panik dan tak tahu harus melakukan apa , ombak itu semakin dekat  dan akhirnya menerpa  perahu tersebut dan menyebabkan perahu mereka terbalik.
Profesor  julian dan nelayan itu terpental dari perahunya namun mereka selamat karena masih bisa berpegangan pada perahu yang terbalik itu.
di dalam kondisi itu si nelayan meminta ijin kepada Profesor julian untuk mengajukan 1 (satu) pertanyaan, dan Profesor-pun setuju.
Nelayan : ” Pak Profesor apakah anda pernah belajar berenang ? “
Di tengah kepanikan karena takut tenggelam Profesor julian menjawab.
Profesor : “Saya tidak pernah belajar berenang pak nelayan”
lalu nelayan itu berenang pergi meninggalkan Profesor julian dan sambil berteriak keras nelayan itu berkata ” Pak Profesor anda akan kehilangan 100% hidup anda karena tidak pernah belajar berenang pak”.

Catata penulis :
Dari kisah di atas ada pelajaran yang bisa kita ambil , yaitu bahwa kita tidak boleh merasa sombong dengan ilmu yang kita miliki,karena setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda dan tentunya pelajaran hidup-pun yang di lalui pasti berbeda, renungkanlah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan pasti memilki kemampuan dari bidangnya masing-masing.
arsitek handalpun belum tentu bisa menjalakan tugas seorang tukang batu.
seorang petani belum tentu bisa berbisnis dan begitupun sebaliknya, ini semua bukan perbedaan namun ini adalah keanekargaman maka dari itu saling melengkapi kekurangan masing-masing.
salah besar jika kita atau ada seseorang yang merasa lebih pintar dalam suatu hal dan merendahkan orang lain.
Semoga kita semua bisa menjadi manusia yang dapat bersikap bijak setelah membaca kisah di atas.

Sedikit tambahan dari penulis , akan pentingnya memahami tenteng kehidupan bersosial, berikut :
Diferensiasi sosial ialah perbedaan secara horizontal (sejajar),tidak ada yang lebih tinggi atau tidak ada yang lebih baik satu sama lain.
bila dikehidupan ber-masyarakat dibedakan berdasarkan ras, etnis suku bangsa, agama, pekerjaan, dan jenis kelamin.
Pembedaan masyarakat tersebut dilakukan secara horizontal atau sejajar, artinya tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah antara satu dan yang lainnya. Semuanya masih memiliki derajat atau tingkatan yang sama. Maka tidak sepantasnya kita merendahkan pekerjaan orang lain.

Diferensiasi sosial terbagi dari beberapa macam , salah satunya adalah diferensiasi profesi dimana masyarakat di golongkan berdasarkan profesi atau pekerjaannya, seperti arsitek , guru, polisi , tentara , petani, karyawan dan lain-lain-nya.
di dalam aturan Diferensiasi sosial semua profesi di atas memiliki nilai atau drajat yang sama namun tetap ada hal yang membedakan yaitu perilaku.
prilaku dari masing-masing profesi di atas , contoh seorang arsitek bangunan dengan perkerja kuli serabut di jalan , sudah jelas dari sisi ilmu pengetahuan berbeda serta bakat dan minat di antara mereka.
selebihnya adalah mendalami ilmu akidah dan ahlak agar kita dapat berkehidupan dengan baik dan sesuai dengan norma-norma yang ada.

Tinggalkan Balasan